Blog ini berisi kumpulan ekspresi, imajinasi dan informasi sebagai sarana berbagi. Kritik dan saran dari para pengunjung blog ini sangat diharapkan untuk peningkatan dan perbaikan kedepan.
Selasa, 23 Desember 2008
Si Kucing yang Singgah ke Rumah
Waktu itu dikala udara pagi begitu segarnya sekitar pukul 5.30, aku duduk termenung di atas kursi yang berada di ruang tamu. Lagi-lagi bayangannya (seseorang yang special bagiku) hinggap dalam pikiranku. Seolah tak mau hilang walau sedetik saja dan aku selalu memikirkannya, lebih-lebih setelah aku membuatnya marah pada malam harinya. Aku merasa waktuku seolah kuhabiskan untuk memikirkan dan melamunkannya. Saat aku terlelap dalam lamunanku, aku dikagetkan oleh suara binatang yang seolah menyapa dari luar halaman rumah. “Meong…..meong…..meong” begitu sapanya (si kucing) seolah memanggilku dan membangunkanku dari lamunan. Dengan segera akupun menengok keluar rumah dan memanggilnya,” pus…..meong…..meong”. Mendengar panggilan itu ia pun langsung menghampiriku dan kusambut dengan belaian hangat sebagai tanda penyambutan kepadanya. Seolah telah mendapatkan izin dari yang punya rumah, iapun langsung nylonong masuk kedalam rumah. Akupun mengikuti dan mengamati apa yang ia lakukan. Akupun heran dengan tingkahnya karena seolah-olah si kucing ada yang menyuruh untuk melihat seisi rumah yang ku tempati. Awalnya Si kucing dengan santainya masuk melalui ruang tamu menuju ruang dapur. Barangkali mau nyari makanan untuk sarapan pagi, tapi karena tidak ada ia pun kembali ke ruang tamu. Saat berada di ruang tamu aq sempat membelainya dengan harapan ia mau menjadi temanku dan senang ia pun menerima belaian itu sambil sesekali menunjukkan cakarnya seolah-olah mengajakku bermain sembari mencakar-cakar kursi yang ada di sebelahnya. Setelah beberapa kemudian, kucing itupun bangkit dan berjalan menuju meja TV yang ada di depan ruang tamu. Sesampainya disana, kucing itu pun langsung melompat keatas meja dan meneruskan pengamatannya dengan melihat ruang / teras belakang dari atas meja. Melalui jendela yang ada di belakang meja TV itu, si kucing melihat sela-sela ruang belakang dengan seksama. Setelah dirasa pengamatannya cukup ia pun segera melompat dan melanjutkan pengamatannya di ruang tidurku. Aku sambil duduk di kursi hanya memperhatikannya dari jauh dan membiarkan si kucing masuk ke kamar. Tidak berselang lama, ia pun menampakkan diri dan langsung menuju ke teras luar rumah. Sesampainya disana ia pun berteriak dengan suara khasnya,”meong…….meong……….?”. Si kucing seolah mengucapkan salam perpisahan, akupun langsung keluar menuju teras depan sambil menyahuti salamnya tersebut. Sebelum pergi jauh akupun sempat memanggilnya dengan harapan agar ia tidak pergi. Si kucing pun merespon panggilanku sambil mendekat menghampiriku. Setelah ada di dekatku aku membelainya lagi dengan penuh harap agar ia tidak segera pergi meninggalkanku. Namun setelah beberapa lama dan sempat bermain-main denganku, si kucing akhirnya pergi. Aku berusaha memanggilnya tapi ia tak menghiraukannya dan akupun sadar bahwa mungkin kucing itu mau pulang ke rumah tempat ia berkumpul bersama keluarga, rumah dimana kebahagiaan dan ketenteraman ia rasakan bersama. Akupun dari depan pintu hanya bisa berucap dalam hati, “Selamat tinggal kucing yang manis, semoga kau dapatkan kebahagiaan yang kau harapkan”. Setelah kucing itu pergi, aku berjalan menuju ruang tamu dan mengambil posisi duduk senyaman mungkin. Pikiranku masih terbayang dengan si kucing itu sembari berkata dalam hati, “Terima kasih kau telah sudi singgah di rumah ini. Walau hanya sesaat kehadiranmu telah memberikan arti, warna, dan cerita yang tidak pernah kan ku lupa sepanjang masa. Semoga Tuhan memberikan waktu dan keempatan kita tuk bersua.” (Arul’s Story_Pasuruan, 26-08-08)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar Anda sebagai sarana berbagi